Tetesan Air Mata Terakhir
Ani
adalah anak bungsu. Setiap hari Ani menjalani hidupnya dengan penuh kecerian,
tapi sekarang pupus sudah dengan harapan lebih tak ada artinya. Ani hanya
mendapatkan kesedihan yang sangat mendalam. Ia tak bisa merasakan lagi indahnya
kehidupan yang pernah ia jalani dulu. Ani mempunyai seorang kakak yang bernama
Aini dan adiknya Riko. Setiap harinya Ani menjalani kisah hidup bersama mereka
dengan penuh canda dan keharuan namun semenjak sang papa meninggalkan mereka,
semua berubah. Suatu hari, Ani ingin berangkat ke sekolah nya untuk menjalani
kehidupan sebagai murid baru. Setiap harinya Ani diantarkan oleh papa dan
mamanya, tapi sekarang sudah hilang. Saat Ani ingin pergi, Ani selalu mencium
tangan kedua orang tuanya, tapi sekarang Ani tidak dapat lagi, karena kasih
sayang itu hilang dan pupus begitu saja kepadanya. Ani kecewa, karena ia hanya
mendapat sebuah acuan yang tak lebih dari orang tuanya sendiri. Berbeda dengan
kakak dan adiknya sendiri, mereka berdua selalu di sayang, dikasihi dan tak
lupa selalu di manja. Ani hanya dapat terdiam. Disaat kakak, dan adiknya ingin
pergi ke sekolah mereka mencium tangan sang mama. Tapi Ani tak sempat, dan ia
hanya mendapat senyuman hampa dari sang mama sendiri. Ani hanya bisa diam dan
meredamkan perasaan sedihnya dengan raut wajah yang merah. Sebelum ia pergi, ia
berkata kepada mamanya “ya udah ma, aku berangkat! Pagi ma, semoga kerja mama
lancar!” Ani mengungkapkan dengan hati tulus dan ia langsung meninggalkan sang
mama. Bel masuk pun berbunyi, Ani pun memasuki kelasnya. Namun pada saat Ani
ingin memasuki kelasnya, terdengarlah suara seorang guru yang memanggil namanya
dengan begitu terburu-buru dan ingin cepat, kaya’nya sang guru membawa kabar
baik. Ternyata tanpa disadari sang guru menginginkan Ani untuk tampil dalam
pentas seni untuk perpisahan kelas VI nanti. “Ani, ibu sangat bangga dengan
prestasi kamu, makanya ibu memanggil kamu untuk mewakili kelas kita dalam
pentas seni perpisahan kakak kelas kamu nanti. Apakah kamu mau Ani?” ibu
bertanya dengan seriusnya sampai-sampai membuat ia gugup. “bu Ani gak bisa
menjawabnya sekarang, Ani butuh waktu bu, apakah boleh bu Ani berpikir terlebih
dahulu?” ibu menjawab dengan senyuman “sangat boleh… kabarkan kapan kamu akan
menjawabnya Ani, ibu menanti jawaban dari kamu!” Ani membalas “baik bu, akan
Ani kabarkan jika sudah terpikir dengan baik” Ani tersenyum sambil menjawabnya
dengan senyuman manis yang membuatnya menjadi percaya diri. Tak lama kemudian,
Ani memutuskan untuk berpikir panjang, dan ia hanya menjawab saat ia memutuskan
untuk menerima atau menolaknya. Ibu mengerti semua itu, ibu akan menunggu Ani
sampai selesai berpikir. Ani pun langsung memasuki ruangan kelasnya. Disana Ani
banyak memiliki teman, dari yang usil sampai yang baik. Ani terkesan dengan
semua, rasa sedih di hatinya hilang. Ani sempat menuliskan sebuah puisi
“GAUNG
PERSAHABATAN”.
Sahabat…
bukan kata yang aneh diucapkan oleh bibir…
bukan kecerian yang di nanti..
bukan Kesedihan yang dicari…
namun, kesenangan lah yang diimpikan saat sahabat ada…
Persahabatan membuat lemah
membuat tanpa arah…
membuat tanpa air mata..
sahabat…
menjadi arti besar dalam hidupku..
inspirasi yang mengalir lebih di jiwaku…
sahabat…
kau lah titisan terakhir untuk ku…
Sahabat…
bukan kata yang aneh diucapkan oleh bibir…
bukan kecerian yang di nanti..
bukan Kesedihan yang dicari…
namun, kesenangan lah yang diimpikan saat sahabat ada…
Persahabatan membuat lemah
membuat tanpa arah…
membuat tanpa air mata..
sahabat…
menjadi arti besar dalam hidupku..
inspirasi yang mengalir lebih di jiwaku…
sahabat…
kau lah titisan terakhir untuk ku…
Itulah
salah satu inspirasi Ani, dengan menuliskan karya besarnya. Ani banyak
mendapatkan inspirasi dari kisah nya. Pada saat ia mendapatkan kesenangan,
kebahagiaan dan kesedihan. Tak beberapa lama, bel pulang yang selalu
dinanti-nanti pun datang, semua anak-anak pulang dengan kebahagiaan. Guru
memberikan sebuah undangan untuk menghadiri pentas seni perpisahan kelas VI.
Ani berpikir tentang tawaran sang guru, akhirnya Ani memilih untuk menerimanya
dengan senang hati. Ia akan tampil maksimal di depan semua orang, dan ia akan
mempersembahkan untuk kedua orang tuanya. Saat perjalanan pulang, Ani berharap
orang tuanya tidak lupa akan dirinya. Ia berharap agar kejadian yang pagi tak
terulang kembali. Namun itu kembali menghampirinya, tetesan air mata terurai
lembut membasahai pipi manisnya, selalu mencairkan senyuman manis yang membuat
ia percaya diri akan apa yang terjadi pada dirinya. Ani kecewa karena sang mama
lupa akan dirinya. Ani hanya bisa terdiam lemah. Ani ingin sekali
memperlihatkan undangan itu, namun ia tak sanggup jika ia hanya di marahi, dan
tak dianggap ada di saat ia bicara tentang dirinya itu. Akhirnya ani memutuskan
untuk memberanikan diri berbicara bersama sang mama. “ma, aku ingin mama datang
ke acara sanggar seni sekolah ku, aku ingin mama, kakak dan adik melihatku
nanti! Aku ingin sekali mama bangga terhadap diriku! Namun jika mama tidak
dapat hadir aku hanya dapat berkata untuk mama, terima kasih” dengan wajah
sedih Ani mengucapkan sebuah kata-kata yang melontarkan air mata nya, akhirnya
sang mama pun menjawab “oke oke… mama akan coba datang!” mama menjawab dengan
melontarkan kata-kata yang asing bagi dirinya. Kata-kata yang di lontarkan sang
mama, membuat tetesan air mata jatuh membasahi pipinya. Saat itu Ani hanya
dapat terdiam dan hanya bisa mendengarkan mama nya dalam sekejap mata. Ia
langsung pergi meninggalkan sang mama. Saat Ani memasuki kamarnya, tiba-tiba
tetesan darah jatuh dari hidung mungilnya, ia tak sadar apa yang akan terjadi
pada dirinya itu. Ani langsung berlari ke kamarnya untuk mencuci tetesan darah
yang keluar dari hidungnya. Ani tampak sedih, kesedihan itu membuat ia
melukiskan sebuah karya puisi
“DARAH”
warna merah…
menetes di helaian bibirku…
mamaksa aku tuk berjalan…
memaksa aku tuk berair…
memaksa aku tuk menangis…
Darah…
itulah kata yang paling pahit…
paling pahit di antara Asam…
mengalirkan sejuta tangis…
tanpa disadari sendiri…
merah, merah dan merah…
hanya terurai tanpa ada kesesalan…
tanpa tangis dan tanpa tawa…
warna merah…
menetes di helaian bibirku…
mamaksa aku tuk berjalan…
memaksa aku tuk berair…
memaksa aku tuk menangis…
Darah…
itulah kata yang paling pahit…
paling pahit di antara Asam…
mengalirkan sejuta tangis…
tanpa disadari sendiri…
merah, merah dan merah…
hanya terurai tanpa ada kesesalan…
tanpa tangis dan tanpa tawa…
Ani
merangkaikan sebuah kisah tentang dirinya dalam puisi yang ia buat. Sampai
akhirnya ia tau bahwa ia menderita penyakit kanker yang mebuat orang selalu
mengeluarkan darah dari hidung. Ani mengetahui itu saat melihat sehelaian
kertas di atas meja sang mama. Ani sadar bahwa hidupnya gak akan berakhir lama.
Hari berlampau hari, hari yang di nanti-nanti pun datang. Ani berharap acara
sanggar ini berjalan dengan baik. Namun kekecewaan menghampiri Ani. Ia tak
melihat sang mama datang ke acara sanggar seni sekolahnya. Ia hanya bisa
melihat seorang supir pribadi yang mengantarkannya kemanapun. Ani mulai kecewa,
ia hanya dapat melihat teman-temannya di hiasi sang mama, di peluk sang mama,
dan di sayang-sayang sang mama. Ia hanya bisa mengeluarkan air mata. Tanpa
diketahui, Ani menangis dan tetesan darah dari hidungnya pun keluar. Dan ia
langsung berlari-lari menuju kamar kecil yang ada pada sekolahnya. Ia tak
menyangka, itu kan terjadi lagi. Sampai akhirnya ia tampil di penghujung acara.
Ani sangat menyesal, karena ia bukan yang terbaik bagi sang mama, yang terbaik
bagi sang mama adalah kepentingan kakak dan adiknya. Ani mulai putus asa, namun
pada akhirnya ia menyadari bahwa itu hanyalah semata saja. Namun keputusasaan
itu, tak Ia angggap, ia hanya berpendapat bahwa itu hanya mimpi. Setelah
selesai membacakan puisi yang telah ia tulis untuk sang mama, Ani turun dengan
amat sedih dan kecewa tetapi tak bertahan lama, kesedihan itu menjadi senyuman
karena ia selalu menganggap itu hanya mimpi bukan aslinya. Setiap kali ia ada
acara sang mama selalu tak datang, sang mama selalu sibuk dengan urusannya. Ani
sangat berharap sang mama bisa datang untuk terakhir kalinya saat ia mengikuti
lomba membaca puisi antar sekolah. Ani ditunjuk untuk mewakili sekolahnya. Ani
sangat-sangat berharap jika ini terakhir kalinya ia tampil di hadapan banyak
orang mama akan datang untuknya. Liburan kelulusan kelas VI pun datang. Hari
berlampau hari, semakin cepat rasanya, dan semakin cepat pula sakit yang
dirasakan sang Ani. Ani merasa bahwa penyakit ia itu semakin membuat ia lemah.
Tetapi Ani tak gampang menyerah, dan tak mudah putus asa. Ia tetap akan
berusaha sampai pada penghujung ia hidup. Setelah selesai menjalani liburan,
Ani disambut dengan gembira. Puisi yang akan ia bawakan terakhir kalinya adalah
“DUNIA
PENUH KEHAMPAAN”
hampa…
kata yang selalu dilihat..
kata yang selalu diucapkan…
hampa dapat terjadi di mana ia berada…
ia bisa datang dengan kebahagiaan…
kehampaan…
semua kata yang terucap dengan kepasraan…
dunia yang selalu dihiasi kehampaan…
dan kehampaan menghiasi dunia sampai kehilangan suatu impian…
hampa…
kata yang selalu dilihat..
kata yang selalu diucapkan…
hampa dapat terjadi di mana ia berada…
ia bisa datang dengan kebahagiaan…
kehampaan…
semua kata yang terucap dengan kepasraan…
dunia yang selalu dihiasi kehampaan…
dan kehampaan menghiasi dunia sampai kehilangan suatu impian…
Ani
membacakan puisi dengan penuh percaya diri, walaupun ia tak bisa bertahan lama.
Ia berharap suatu hari nanti, ia bisa bahagia dalam pelukan sang mama. Saat Ani
turun, ia terjatuh. Ia langsung dilarikan ke rumah sakit. sebelum ia tampil,
ada pesan singkat sang ani yang ia berikan kepada bibi untuk mama nya. Bibi pun
beranikan diri untuk berbicara dengan mama nya ani. “non… saya mau” tiba-tiba
telepon pun berdering. “bi… handpone ku berbunyi ngomongnya ntar aja yah di
rumah! Saya mau meeting dulu, Titip salam aja buat Ani bi! Ingat bi jaga Ani
baik-baik” bibi menjawab dengan raut wajah yang sedih “ya non… saya akan
menjaga Ani dengan baik” Bibi kecewa pada sang mama, karena sang mama tak dapat
melihat anaknya sendiri. Akhirnya bibi berlari menuju kamar ani, dimana ia
dirawat. Tanpa disengaja sang bibi melihat ani sedang duduk dengan hamparan air
mata. Ia duduk sambil menuliskan sebuah karya terakhir untuk sang mama. Ia
membuat dengan hati yang tulus. Namun sang mama tak mengerti akan semua itu. Ia
hanya bisa mengucapkan kata terakhir dalam puisinya itu “I LOVE U MAMA”. Sang
bibi sangat terharu melihat ani, karena perjuangan yang selama ini ia jalani
dengan penyakit yang ia derita tak ia bebani. Ia hanya tersenyum manis. Setelah
beberapa saat, bibi melihat sang Ani terjath pingsan dengan sendirinya. Bibi
langsung memanggil Dokter untuk melihat keadaan ani. Namun tak disangka-sangka
sang ani telah tiada. Bibi menangis, karena ani orang yang paling ia sayangi
pergi jauh dengan air mata terakhir. Tangisan itu membuat bibi sadar, ia
langsung menelpon sang mama. Akhirnya mama sadar akan keegoisan dirinya terhadap
ani. Sang mama langsung pergi. Sang mama menyesal karena permintaan terakhir
ani tak terkabulkan dengan baik. Sang mama langsung menghampiri ani dengan air
mata penyelesaian. “Ani… maafin mama nak, mama terlalu egois dengan diri mama
sendiri, padahal kamu, maafin mama nak..” dengan tetesan air mata sang mama
mengucapkannya. Sang mama mulai sadar akan semua peristiwa itu, pada saat itu,
mama melihat sehelaian kertas yang terlumuri darah dan air mata Ani. Kertas itu
adalah ungkapan hati ani yang terakhir kalinya untuk sang mama. Ia menuliskan
sebuah puisi
“SAYANG
MAMA”
mama…
adalah orang yang paling berarti dalam hidupku…
saat suka maupun duka…
hidupku indah bersama sang mama…
walau badai menghantam tak membuat itu pupus…
canda, tawa, bahagiaa…
itulah yang kurasakan pada sang mama…
selalu ada untukku walau ia tak tau aku…
ku sayang mama…
sampai ku pergi jauh untuknya…
kan ku kenang dirimu sampai ku pergi…
i love u mama…
mama…
adalah orang yang paling berarti dalam hidupku…
saat suka maupun duka…
hidupku indah bersama sang mama…
walau badai menghantam tak membuat itu pupus…
canda, tawa, bahagiaa…
itulah yang kurasakan pada sang mama…
selalu ada untukku walau ia tak tau aku…
ku sayang mama…
sampai ku pergi jauh untuknya…
kan ku kenang dirimu sampai ku pergi…
i love u mama…
Ia
sangat menyesal, karena ia tak mengerti akan Ani. Saat itu sang mama sadar
bahwa ani adalah yang paling berharga. Akhirnya mama tau, bahwa tetesan air
mata ani inilah yang terakhir kalinya. Kehidupan sang mama menjadi tentram.
Dengan itu, mama sadar bahwa, anak itu tak ada bedanya satu sama lain. Mama
akan mengenang dan menyimpan semua kenangan yang telah ani buat dalam kalbu
sang mama. “I LOVE YOU TO Ani” itulah ungkapan terakhir sang mama kepada Ani,
walapun tak secara langsung ia ucapkan kepada Ani.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar