Sabtu, 23 November 2013

Deary

Deary

Dear ibu dan bapak
Assalamualaikum wr.wb.
Ibu, maafin tania. Bapak, maafin tania. Tania sudah capek nangis terus. Walaupun tania pergi duluan tapi tania tetep tungguin ibu sama bapak disana. Doain tania ya supaya tania selamat di jalan dan tidak kesepian saat menunggu hari itu.
Tania sayang sama ibu dan bapak.
Sampaikan salam ku pada kakak, aku pergi dulu.
Wassalamualaikum wr.wb
Bidadari kecil mu
Tania
“Bapak, tania pengen pulang. Tania pengen tidur di kamar tania sendiri.”
“Tania sabar dulu ya, nanti kalau tania sudah sembuh kita pulang. Terus tania bisa tidur di kamar tania sendiri.”
“Aku maunya sekarang. Tania sudah tidak tahan lagi, di sini pengap bau obat.”
“Makaanya kamu harus berusaha supaya cepat sembuh. Nanti kalau sudah senbuh tania gak akan minum obat lagi.”
“Bapak, tania di rawat di rumah saja?”
“Baiklah kalau kamu memaksa biar nanti bapak rundingkan dulu sama ibu kamu, sekarang kamu istirahat dulu.”
Sore berganti petang. Tania masih tertidur di ranjang rumah sakit. Sudah hampir dua bulan dia meninggalkan sekolah untuk berobat. Masa SMA yang seharusnya dia lewati dengan penuh kebahagian bersama teman sekolah. justru kesedihan yang dia rasakan bersama penyakit yang dideritanya di rumah sakit.
“huuueeekkk… ibu sudah tania gak kuat lagi.”
“Tania bagaimana kamu bisa sembuh kalau tiap kali minum obat kamu selalu muntah.”
“Tania gak bisa nelan obatnya, pahit banget.”
“kamu yang sabar ya sayang, ya sudah kamu istirahat lagi.”
Ibu tania meninggalkan ruang rawat, sambil memandang iba pada putrinya. “Kasihan kamu nak, ibu tak tega melihatmu seperti ini terus. Kamu harus sembuh, supaya kamu bisa tersenyum lagi.” Ucapnya dalam hati. Ibu dan bapak tania talah sepakat untuk menemui dokter yang menangani putri mereka hari ini.
“bagaimana pak perkembangan putri kami?” tanya ibu tania setelah berada di ruang dokter.
“Sepertinya kita tidak bisa berharap banyak. Kanker otak yang diderita putri ibu dan bapak semakin membesar, kanker tesebut menekan jaringan saluran mata sehingga penglihatan tania semakin kabur. Jika di operasi tetap saja kecil kemungkinan untuk sembuh, tapi jika tidak di operasi maka kita hanya bisa berdoa. Kami tidak bisa berbuat banyak.”
“bapak tania harus sembuh, harus pak… harus… pak dokter harus sembuhin putri saya berapun biayanya saya akan bayar asalkan putri saya sembuh!” ibu tania menangis sejadi jadinya di bahu suaminya.
“Sabar bu sabar. Ibu harus tenang. Tania pasti sembuh. Jika dokter tidak bisa membantu, kita rawat saja tania di rumah.”
“Maksud bapak apa?”
“tadi tania bilang sama bapak pengin pulang dan di rawat di rumah saja. Jika dokter sudah menyerah kita tetap tidak boleh menyerah untuk kesembuhan tania. Dokter ijinkan kami membawa pilang tania.”
“Baiklah jika itu sudah menjadi keputasan ibu dan bapak.”
Setelah keluar dari ruang dokter ibu tania masih belum mengerti dengan keputusan yang di ambil suaminya. Karena keadaan yang kalut dia masih belum bisa berfikir dengan jernih. Tapi dia mencoba untuk menerima keputusan itu. Mungkin dengan menbawa tania pulang. Tania bisa lebih semangat untuk sembuh. Sampai di ruang rawat putrinya. Ibu tania segaera membereskan barang-barang tania. Sedangkan bapak tania mengurus administrasi.
“Ibu kenapa barang-barangnya di kemasi?”
“Kamu sudah bangun sayang? Iya sekarang kita pulang, ibu dan bapak kan merawat kamu di rumah.” Kata ibu tania sambil membelai rambut putrinya.
“Benarkah ibu? Ibu terimakasih tania senang sekali, maafkan tania bu, tania selalu merepotkan ibu dan ayah.” Air mata tania mulai mengalir di pipinya sambil ia memeluk erat ibunya.
“iya sayang. Pokoknya ibu dan bapak akan berusaha untuk kesembuhan kamu. Supaya kamu cepat bisa masuk sekolah lagi. Kamu kangen gak sama teman-teman mu?”
“Iya bu, tania kangen sama sekolah dan teman-teman.”
“nanti kalau kamu sembuh ibu janji akan bikin acara syukuran kesembuhan mu, dan semua teman-teman kamu di undang.”
“ibu makasih, tania akan berusaha agar tania lekas sembuh.”
Tak lama kemudian perawat datang untuk melepas infus tania. Hari ini tania telah resmi keluar dari rumah sakit. Saat di dalam mobil dalam perjalanan pulang dia tak ingin melewatkan kesempatan untuk memandang taman kota. Udara segar pepohonan di sekitar taman membuat tania merasa bahagia becampur sedih. Dalam hati dia berkata “akankah besok aku masih bisa menghirup udara segar di taman ini?”
Sesampai di rumah tania masuk kekamarnya dengan di bopong oleh bapaknya. Rindu akan kehangatan kamarnya kini telah terobati. Mulai sekarang tania akan menjalani perawatan di rumah.
“Tania sekarang sudah malam kamu istirahat ya, ibu sama bapak mau jemput kakakmu di bandara. Dia mengambil cuti di kantornya, katanya dia membawakan oleh-oleh dari singapura buat kamu.”
“Beneran bu? Tapi nanti kalau kakak sudah sampai rumah, bilangin jangan bangunin tania kalau mau ketenu tania besok pagi aja. Biarin kakak istirahat dulu, kakak pasti capek dari perjalanan jauh.”
“tapi kakak mu itu laki-laki kuat lo tania, dia mampu menempuh perjalanan jauh pakai motor.”
“sudahlah bu biarin nanti kakak istirahat, lagian tania juga pengin istirahat, kan tania baru pulang dari perjalanan jauh.”
“Ya sudah nanti ibu bilangin kakak mu. Sekarang kamu tidur dulu.”
Sebelum pergi meninggalkan tania, ibu tania merapikan selimut yang dikenakan tania sambil mencium kenin putrinya. Dalam hati ibu tania mengucapkan “selamat malam bidadari kecilku, semoga esok engkau lekas sembuh.” Ibu tania keluar sambil mematikan lampu kamar tania.
Tak lama setelah ibu keluar, tania menyalakan kembali lampu kamarnya. Dengan terhuyung-huyung ia berjalan menuju meja belajarnya. Dia keluarkan secarik kertas dari laci meja. Dengan bercucur air mata. Tania berencana untuk menulis surat untuk kelurganya yang mungkin tak lama lagi akan ditinggalkanya. Selesai menulis dengan terhuyung-huyung menahan rasa sakit di kepalanya dia melangkah kembali ke ranjang tidurnya. Dia meletakan surat itu di samping bantalnya. Tak lama kemudian tania pun terlelap, terbang ke alam mimpi.
Pagi pun tiba, bapak, kak irul dan ibu dengan semangat menuju ke kamar tania berharap tania mulai membaik.
“selamat pagi adik manis kakak sudah pulang, kak irul punya oleh-oleh buat kamu. Nih kamu lihat kak irul beliin kamu bonekah panda, kamu pasti suka.”
“tania bangun sayang ibu bawain sarapan kesukaan kamu.”
“ibu tania nulis surat buwat kita, bapak bacain ya.”
Bapak pun mulai membaca surat kecil itu, mata kak irul mulai berkaca-kaca, ibu menangis sejadi-jadinya sambil memeluk tubuh putrinya. Dengan tak percaya bapak menangis sambil menatap wajah putrinya. Surat dari tania perlahan terlepas dari tangan bapak dan melayang bagai melayangnya jiwa tania meniju tempat penantian.
THE END

Tuhan Kenapa Air Mata Ini Terus Mengalir

 Tuhan Kenapa Air Mata ini Terus Mengalir

Air mata itu mulai ada
Jumat 08 april 2013 ayahku meninggal dunia, tak pernah ku sangka ini terjadi, kecelekaan itu merenggut nyawa ayah ku, ku melihat sosok ayah ku yang tak biasanya dengan tubuh di tutupi kain di sekujur tubuh nya, tangan nya di ikat juga kaki nya, ku peluk berharap nyawa itu kembali bukan hanya jasad ku peluk, ku coba ku tahan air mata ini karena kata orang kita tak boleh menangis karena hujan di luar sana itu tangisan ayah mu. Katanya ayah ku jauh lebih sedih di banding aku .Aku tak pedulikan itu, ku lihat luka di kepala nya ku ambil kan obat biar ayah ku sadar tapi ku tahu aku ini bodoh karena ayah ku telah meninggal.
Tapi aku gila aku depresi aku ingin membunuh diriku sendiri, semua orang berkata “athek sabar, ikhlasin ayah mu biar tenang hanya doa yang bisa kau lakukan sekarang ini”. “Diam kalian, kalian tak tau perasaan aku, melihat orang yang paling ku sayangi di dunia terbaring tak bernyawa”. Kata kata terakhir tak ku dengar, kalian tak tahu, berbulan bulan aku tak bertemu ayah ku, dengan hp saja aku menghilangkan rasa rindu ku tapi sekali aku ketemu dalam keadaan tak bernyawa. Tuhan luka ini menyakitkan, kata kata tuhan sayang pada makhluk nya tapi kenapa begini tuhan.
Ayah ku tak bernapas lagi
Ayah ku telah pergi.
Ibuku seorang diri.
Mengapa engkau pergi terlalu cepat.
Meninggalkan kami yang belum tahu taat.
Meninggalkan kami yang butuh bimbingan.
Untuk mencapai kesuksesan.
Kami hanya bisa berdoa.
Agar engkau nyenyak di alam baka.
Sejak ayah meninggal dunia.
Rumah bagai kapal tak bernahkoda.
Dan para awak tidak tahu apa-apa.
Kami anak-anaknya.
Bagai ayam tidak ada induknya.
Kenangan indah bersama.
Hilang selamanya.
Bagai badai tiada habisnya.
Jika hal itu ku kenang.
Aku ingin menangis.
Sampai air mataku habis.
Aku ingin berteriak.
Sampai bumi retak.
Ayah…
Izinkan aku bertanya.
Jika ini kehendak yang kuasa.
Aku hanya bisa pasrah.
Dan berkata…
Selamat jalan ayah.
Kini luka ini menimpa ku, luka yang tak bisa di sembuh kah, walau dengan dokter sekalipun, aku berjerit bahkan aku mencubik tubuhku berkali kali ayah ku tak kan kembali.
Ku lihat nisan bertulis nama ayah ku, “itu nama ayah ku. Andai boleh nyawa ini untuk ayah ku, aku ikhlas meninggal kan dunia ini selamanya tapi sayang nya ini sudah kehendak tuhan”.
Untuk pertama kali nya ketakutan ku hilang melihat kain putih untuk menutupi ayah ku yang sedang di buat oleh mereka mereka yang ahli. Waktunya ayah ku dimandikan, tak lama selesai di mandikan ayah ku di tutupin kain putih. Ayah ku di pocongi pertama kali nya ku melihat hal ini dengan nyata, iya ini ayah ku dengan di balut kain putih, kata nenek cium ayah asal jangan mengeluarkan air mata. Ku cium ayah ku dan ku peluk ayah ku, hingga semua orang berkata “lepaskan nak, lepaskan!” ini terakhir kali nya ku memeluk ayah ku. Ini terakhir kali nya aku melihat tubuh ayah ku yang tak bernyawa izinkan aku memeluk nya, ku mohon!
Proses penguburan, ya ayah ku akan di masukan dalam tanah ini, ini takdir ku ayah ku pergi tak pernah ku sangka, rasanya melihat ayahku dimasukkan dalam tanah membuat ku tak bisa menahan tangis lagi ku tak berdaya untuk berdiri lagi aku terjatuh tapi bukan terjatuh karena tersandung tapi ku terjatuh karena ku tak sanggup menahan luka, tubuh rasanya tak berdaya, darah ku tak mengalir kalau tuhan menghendaki biar aku meninggal juga biar ku bisa bersama ayah ku.
Pemakaman selesai, turunlah hujan ku kembali ke rumah ku melihat rumah ku ramai sekali menangis dan menangis, mama ku histeris dan saudara ku tidur tak berdaya dan aku sendiri hanya termenung melihat di tengah keramain ini ayah ku tak ada lagi, rasanya aku ingin mati saja, rasanya aku ingin sekali ayahku mengajaku pergi bersamanya. Ku ingin tidur agar bisa ku bermimpi ayah ku di saat aku tidur ku bermimpi ayah ku duduk dengan tersenyum tapi ku aneh ku tak bisa menghampiri nya ku hanya bisa melihat, ayah ku tak berbicara juga sungguh aneh”.
Apakah benar di mimpi ku itu ayah ku, atau kah itu hanya bunga tidur, ku terbangun dan saat itulah ku termenung hingga makan pun tak berselera. Di malam tahlilan semua orang membaca yasin, sekarang aku membaca yasin buat ayah ku yang telah meninggal. Ku tak mendengar langkah sentakan kaki ayah ku lagi, “aku tak punya ayah lagi”.
Kini ku hanya bisa lakukan hanya mendoakan ayah ku. Tuhan kumohon ambilah nyawa ku ini, beri sama orang yang membutuhkan aku tak membutuhkan nyawa ini yang ku butuh kan bertemu ayah ku berada di dekatnya.
Hari demi hari berlalu ini adalah malam 40 hari ayah ku, iya membaca yasin tapi kali ini yasin nya beda, bedanya karena ada foto ayah ku, ku menangis lagi karena ku tak bisa melupakan ayah ku. Luka ini begitu menyakit kan ku entah kapan akan sembuh ku tak tahu.
Tuhan adakah pilihan lain dalam hidupku
Beberapa hari ini kulewati, ku merenung ternyata semakin lama semakin ku merinduhkan ayahku. Di saat aku jatuh sakit ku merinduhkan ayah ku yang mengantar ku ke dokter, aku takut jalanin hidup ku ini sekarang, kehidupan yang hanya bernapas saja tak ada lagi cerita yang indah. Kadang ku bermimpi namun mimpi yang tak jelas ku hanya merasakan ada ayah ku di mimpi ku. Ku tertawa tawa untuk menutupi luka ku ini, ku berusaha tutup telinga saat teman teman ku sedang membanggakan ayah nya, ku coba menutup mata saat teman teman ku di antar ayah nya ke sekolah. Kata tuhan kita tak boleh iri oleh punya orang lain. Tapi ku mohon tuhan ampuni aku karena aku iri pada teman ku tapi bukan aku tak iri terhadap barang barang yang ia punyai tapi aku iri karena mereka mempunyai ayah.
Tuhan engkau memberi cobaan pada makhluk tidak melewati kemampuan nya. Tapi kalau boleh jujur tuhan aku tak mampu melewati cobaan ini, aku harus ikhlas iya aku ikhlas ya allah demi ketenangan ayah ku. Tapi kalau boleh minta aku tak ingin hidup di dunia ciptaan mu ini ya allah aku jenuh tuhan bukan berarti aku menentang mu tapi aku justru menghargai mu ya allah aku tak mau merepotkan mu tiap doa doa ku panjatkan ku selalu mengelu ngelu padamu. Tapi kalau kamu tak ingin mengambil nyawa ku ini adakah pilihan untuk ku tuhan. Pilihan untuk memilih antara masa sekarang dan masa lalu bila engkau memutar kan waktu itu aku akan memilih kembali ke masa lalu tuhan. Masa dimana aku masih hidup tanpa rasa sakit, masa dimana aku masih bisa menangis karena haru. Bukan karena kesedihan melihat ayah ku menghadap mu.
Ku coba menerima
Hidup dan nasib, bisa tampak berantakan, misterius, fantastis dan sporadis, namun setiap elemennya adalah subsistem keteraturan dari sebuah desain holistik yang sempurna. Menerima kehidupan berarti menerima kenyataan bahwa tak ada hal sekecil apa pun terjadi karena kebetulan. Ini fakta penciptaan yang tak terbantahkan. Jika hidup ini seumpama rel kereta api dalam eksperimen relativitas einsten, maka pengalaman demi pengalaman yang menggempur kita dari waktu ke waktu adalah cahaya yang melesa lesat di dalam gerbong di atas rel itu. Relativitasnya berupa seberapa banyak melesat lesat itu. Analogi eksperimen itu tak lain, kecepatan cahaya bersifat sama dan absolut, dan waktu relatif tergantung kecepatan gebong. Maka pengalaman yang sama dapat menimpa siapa saja, namun sejauh mana, dan secepat apa pengalaman yang sama tadi memberi pelajaran pada seseorang, hasilnya akan berbeda, relatif satu sama lain.
Banyak orang yang panjang pengalamannya tapi tak kunjung belajar, namun tak jarang pengalaman yang pendek mencerahkan sepanjang hidup. Pengalaman semacam itu bak mutiara dan mutiara dalam hidup ku. Kini ku mulai menerima dan belajar mengiklaskan apa yang terjadi di hidup ku, aku tak boleh termenung hingga kemudian ku menyesal. Sudah cukup ku melewatkan waktu dengan menangis itu semua tak ada gunanya, pengalaman itu tak kan ku lupakan, kini ku tak kan menyia nyikan orang tua ku satu satunya. Ku kan belajar dari pengalaman ku sadari tuhan itu tak memberi apa yang ku minta melainkan tuhan memberi apa yang terbaik untuk ku, semua yang terjadi pada ku ini semua ada hikmah tuhan hanya menunggu untuk menunjukkan itu pada ku. Aku masih sangat beruntung karena tuhan selalu ada untuk ku menenang kan ku dan memberi kekuatan menghadapi semua itu. Hingga ku sadari sekarang betapa buruk nya sikap ku terhadap ayahku, sering ku membantah apa yang ia perintah kan, kini ku sadari betapa bodoh nya aku. Ku menyia nyiakan waktu bersamanya dan hal itu tak kan ku ulangi kedua kali nya.

Rabu, 20 November 2013

Tetesan Air Mata Terakhir


Tetesan Air Mata Terakhir
Ani adalah anak bungsu. Setiap hari Ani menjalani hidupnya dengan penuh kecerian, tapi sekarang pupus sudah dengan harapan lebih tak ada artinya. Ani hanya mendapatkan kesedihan yang sangat mendalam. Ia tak bisa merasakan lagi indahnya kehidupan yang pernah ia jalani dulu. Ani mempunyai seorang kakak yang bernama Aini dan adiknya Riko. Setiap harinya Ani menjalani kisah hidup bersama mereka dengan penuh canda dan keharuan namun semenjak sang papa meninggalkan mereka, semua berubah. Suatu hari, Ani ingin berangkat ke sekolah nya untuk menjalani kehidupan sebagai murid baru. Setiap harinya Ani diantarkan oleh papa dan mamanya, tapi sekarang sudah hilang. Saat Ani ingin pergi, Ani selalu mencium tangan kedua orang tuanya, tapi sekarang Ani tidak dapat lagi, karena kasih sayang itu hilang dan pupus begitu saja kepadanya. Ani kecewa, karena ia hanya mendapat sebuah acuan yang tak lebih dari orang tuanya sendiri. Berbeda dengan kakak dan adiknya sendiri, mereka berdua selalu di sayang, dikasihi dan tak lupa selalu di manja. Ani hanya dapat terdiam. Disaat kakak, dan adiknya ingin pergi ke sekolah mereka mencium tangan sang mama. Tapi Ani tak sempat, dan ia hanya mendapat senyuman hampa dari sang mama sendiri. Ani hanya bisa diam dan meredamkan perasaan sedihnya dengan raut wajah yang merah. Sebelum ia pergi, ia berkata kepada mamanya “ya udah ma, aku berangkat! Pagi ma, semoga kerja mama lancar!” Ani mengungkapkan dengan hati tulus dan ia langsung meninggalkan sang mama. Bel masuk pun berbunyi, Ani pun memasuki kelasnya. Namun pada saat Ani ingin memasuki kelasnya, terdengarlah suara seorang guru yang memanggil namanya dengan begitu terburu-buru dan ingin cepat, kaya’nya sang guru membawa kabar baik. Ternyata tanpa disadari sang guru menginginkan Ani untuk tampil dalam pentas seni untuk perpisahan kelas VI nanti. “Ani, ibu sangat bangga dengan prestasi kamu, makanya ibu memanggil kamu untuk mewakili kelas kita dalam pentas seni perpisahan kakak kelas kamu nanti. Apakah kamu mau Ani?” ibu bertanya dengan seriusnya sampai-sampai membuat ia gugup. “bu Ani gak bisa menjawabnya sekarang, Ani butuh waktu bu, apakah boleh bu Ani berpikir terlebih dahulu?” ibu menjawab dengan senyuman “sangat boleh… kabarkan kapan kamu akan menjawabnya Ani, ibu menanti jawaban dari kamu!” Ani membalas “baik bu, akan Ani kabarkan jika sudah terpikir dengan baik” Ani tersenyum sambil menjawabnya dengan senyuman manis yang membuatnya menjadi percaya diri. Tak lama kemudian, Ani memutuskan untuk berpikir panjang, dan ia hanya menjawab saat ia memutuskan untuk menerima atau menolaknya. Ibu mengerti semua itu, ibu akan menunggu Ani sampai selesai berpikir. Ani pun langsung memasuki ruangan kelasnya. Disana Ani banyak memiliki teman, dari yang usil sampai yang baik. Ani terkesan dengan semua, rasa sedih di hatinya hilang. Ani sempat menuliskan sebuah puisi







“GAUNG PERSAHABATAN”.
Sahabat…
bukan kata yang aneh diucapkan oleh bibir…
bukan kecerian yang di nanti..
bukan Kesedihan yang dicari…
namun, kesenangan lah yang diimpikan saat sahabat ada…
Persahabatan membuat lemah
membuat tanpa arah…
membuat tanpa air mata..
sahabat…
menjadi arti besar dalam hidupku..
inspirasi yang mengalir lebih di jiwaku…
sahabat…
kau lah titisan terakhir untuk ku…
Itulah salah satu inspirasi Ani, dengan menuliskan karya besarnya. Ani banyak mendapatkan inspirasi dari kisah nya. Pada saat ia mendapatkan kesenangan, kebahagiaan dan kesedihan. Tak beberapa lama, bel pulang yang selalu dinanti-nanti pun datang, semua anak-anak pulang dengan kebahagiaan. Guru memberikan sebuah undangan untuk menghadiri pentas seni perpisahan kelas VI. Ani berpikir tentang tawaran sang guru, akhirnya Ani memilih untuk menerimanya dengan senang hati. Ia akan tampil maksimal di depan semua orang, dan ia akan mempersembahkan untuk kedua orang tuanya. Saat perjalanan pulang, Ani berharap orang tuanya tidak lupa akan dirinya. Ia berharap agar kejadian yang pagi tak terulang kembali. Namun itu kembali menghampirinya, tetesan air mata terurai lembut membasahai pipi manisnya, selalu mencairkan senyuman manis yang membuat ia percaya diri akan apa yang terjadi pada dirinya. Ani kecewa karena sang mama lupa akan dirinya. Ani hanya bisa terdiam lemah. Ani ingin sekali memperlihatkan undangan itu, namun ia tak sanggup jika ia hanya di marahi, dan tak dianggap ada di saat ia bicara tentang dirinya itu. Akhirnya ani memutuskan untuk memberanikan diri berbicara bersama sang mama. “ma, aku ingin mama datang ke acara sanggar seni sekolah ku, aku ingin mama, kakak dan adik melihatku nanti! Aku ingin sekali mama bangga terhadap diriku! Namun jika mama tidak dapat hadir aku hanya dapat berkata untuk mama, terima kasih” dengan wajah sedih Ani mengucapkan sebuah kata-kata yang melontarkan air mata nya, akhirnya sang mama pun menjawab “oke oke… mama akan coba datang!” mama menjawab dengan melontarkan kata-kata yang asing bagi dirinya. Kata-kata yang di lontarkan sang mama, membuat tetesan air mata jatuh membasahi pipinya. Saat itu Ani hanya dapat terdiam dan hanya bisa mendengarkan mama nya dalam sekejap mata. Ia langsung pergi meninggalkan sang mama. Saat Ani memasuki kamarnya, tiba-tiba tetesan darah jatuh dari hidung mungilnya, ia tak sadar apa yang akan terjadi pada dirinya itu. Ani langsung berlari ke kamarnya untuk mencuci tetesan darah yang keluar dari hidungnya. Ani tampak sedih, kesedihan itu membuat ia melukiskan sebuah karya puisi




“DARAH”
warna merah…
menetes di helaian bibirku…
mamaksa aku tuk berjalan…
memaksa aku tuk berair…
memaksa aku tuk menangis…
Darah…
itulah kata yang paling pahit…
paling pahit di antara Asam…
mengalirkan sejuta tangis…
tanpa disadari sendiri…
merah, merah dan merah…
hanya terurai tanpa ada kesesalan…
tanpa tangis dan tanpa tawa…
Ani merangkaikan sebuah kisah tentang dirinya dalam puisi yang ia buat. Sampai akhirnya ia tau bahwa ia menderita penyakit kanker yang mebuat orang selalu mengeluarkan darah dari hidung. Ani mengetahui itu saat melihat sehelaian kertas di atas meja sang mama. Ani sadar bahwa hidupnya gak akan berakhir lama. Hari berlampau hari, hari yang di nanti-nanti pun datang. Ani berharap acara sanggar ini berjalan dengan baik. Namun kekecewaan menghampiri Ani. Ia tak melihat sang mama datang ke acara sanggar seni sekolahnya. Ia hanya bisa melihat seorang supir pribadi yang mengantarkannya kemanapun. Ani mulai kecewa, ia hanya dapat melihat teman-temannya di hiasi sang mama, di peluk sang mama, dan di sayang-sayang sang mama. Ia hanya bisa mengeluarkan air mata. Tanpa diketahui, Ani menangis dan tetesan darah dari hidungnya pun keluar. Dan ia langsung berlari-lari menuju kamar kecil yang ada pada sekolahnya. Ia tak menyangka, itu kan terjadi lagi. Sampai akhirnya ia tampil di penghujung acara. Ani sangat menyesal, karena ia bukan yang terbaik bagi sang mama, yang terbaik bagi sang mama adalah kepentingan kakak dan adiknya. Ani mulai putus asa, namun pada akhirnya ia menyadari bahwa itu hanyalah semata saja. Namun keputusasaan itu, tak Ia angggap, ia hanya berpendapat bahwa itu hanya mimpi. Setelah selesai membacakan puisi yang telah ia tulis untuk sang mama, Ani turun dengan amat sedih dan kecewa tetapi tak bertahan lama, kesedihan itu menjadi senyuman karena ia selalu menganggap itu hanya mimpi bukan aslinya. Setiap kali ia ada acara sang mama selalu tak datang, sang mama selalu sibuk dengan urusannya. Ani sangat berharap sang mama bisa datang untuk terakhir kalinya saat ia mengikuti lomba membaca puisi antar sekolah. Ani ditunjuk untuk mewakili sekolahnya. Ani sangat-sangat berharap jika ini terakhir kalinya ia tampil di hadapan banyak orang mama akan datang untuknya. Liburan kelulusan kelas VI pun datang. Hari berlampau hari, semakin cepat rasanya, dan semakin cepat pula sakit yang dirasakan sang Ani. Ani merasa bahwa penyakit ia itu semakin membuat ia lemah. Tetapi Ani tak gampang menyerah, dan tak mudah putus asa. Ia tetap akan berusaha sampai pada penghujung ia hidup. Setelah selesai menjalani liburan, Ani disambut dengan gembira. Puisi yang akan ia bawakan terakhir kalinya adalah

“DUNIA PENUH KEHAMPAAN”
hampa…
kata yang selalu dilihat..
kata yang selalu diucapkan…
hampa dapat terjadi di mana ia berada…
ia bisa datang dengan kebahagiaan…
kehampaan…
semua kata yang terucap dengan kepasraan…
dunia yang selalu dihiasi kehampaan…
dan kehampaan menghiasi dunia sampai kehilangan suatu impian…
Ani membacakan puisi dengan penuh percaya diri, walaupun ia tak bisa bertahan lama. Ia berharap suatu hari nanti, ia bisa bahagia dalam pelukan sang mama. Saat Ani turun, ia terjatuh. Ia langsung dilarikan ke rumah sakit. sebelum ia tampil, ada pesan singkat sang ani yang ia berikan kepada bibi untuk mama nya. Bibi pun beranikan diri untuk berbicara dengan mama nya ani. “non… saya mau” tiba-tiba telepon pun berdering. “bi… handpone ku berbunyi ngomongnya ntar aja yah di rumah! Saya mau meeting dulu, Titip salam aja buat Ani bi! Ingat bi jaga Ani baik-baik” bibi menjawab dengan raut wajah yang sedih “ya non… saya akan menjaga Ani dengan baik” Bibi kecewa pada sang mama, karena sang mama tak dapat melihat anaknya sendiri. Akhirnya bibi berlari menuju kamar ani, dimana ia dirawat. Tanpa disengaja sang bibi melihat ani sedang duduk dengan hamparan air mata. Ia duduk sambil menuliskan sebuah karya terakhir untuk sang mama. Ia membuat dengan hati yang tulus. Namun sang mama tak mengerti akan semua itu. Ia hanya bisa mengucapkan kata terakhir dalam puisinya itu “I LOVE U MAMA”. Sang bibi sangat terharu melihat ani, karena perjuangan yang selama ini ia jalani dengan penyakit yang ia derita tak ia bebani. Ia hanya tersenyum manis. Setelah beberapa saat, bibi melihat sang Ani terjath pingsan dengan sendirinya. Bibi langsung memanggil Dokter untuk melihat keadaan ani. Namun tak disangka-sangka sang ani telah tiada. Bibi menangis, karena ani orang yang paling ia sayangi pergi jauh dengan air mata terakhir. Tangisan itu membuat bibi sadar, ia langsung menelpon sang mama. Akhirnya mama sadar akan keegoisan dirinya terhadap ani. Sang mama langsung pergi. Sang mama menyesal karena permintaan terakhir ani tak terkabulkan dengan baik. Sang mama langsung menghampiri ani dengan air mata penyelesaian. “Ani… maafin mama nak, mama terlalu egois dengan diri mama sendiri, padahal kamu, maafin mama nak..” dengan tetesan air mata sang mama mengucapkannya. Sang mama mulai sadar akan semua peristiwa itu, pada saat itu, mama melihat sehelaian kertas yang terlumuri darah dan air mata Ani. Kertas itu adalah ungkapan hati ani yang terakhir kalinya untuk sang mama. Ia menuliskan sebuah puisi
“SAYANG MAMA”
mama…
adalah orang yang paling berarti dalam hidupku…
saat suka maupun duka…
hidupku indah bersama sang mama…
walau badai menghantam tak membuat itu pupus…
canda, tawa, bahagiaa…
itulah yang kurasakan pada sang mama…
selalu ada untukku walau ia tak tau aku…
ku sayang mama…
sampai ku pergi jauh untuknya…
kan ku kenang dirimu sampai ku pergi…
i love u mama…
Ia sangat menyesal, karena ia tak mengerti akan Ani. Saat itu sang mama sadar bahwa ani adalah yang paling berharga. Akhirnya mama tau, bahwa tetesan air mata ani inilah yang terakhir kalinya. Kehidupan sang mama menjadi tentram. Dengan itu, mama sadar bahwa, anak itu tak ada bedanya satu sama lain. Mama akan mengenang dan menyimpan semua kenangan yang telah ani buat dalam kalbu sang mama. “I LOVE YOU TO Ani” itulah ungkapan terakhir sang mama kepada Ani, walapun tak secara langsung ia ucapkan kepada Ani.

Kenapa Harus Aku ???

Kenapa Harus Aku ???

Kehidupan itu sungguh suatu misteri. Banyak kejadian yang tak terduga yang terkadang menimpa kita. Itu lah yang aku rasakan, kejadian demi kejadian yang datang membawa kesedihan.  Aku putra sulung di keluargaku. Sebagai seorang anak aku ingin selalu bersama kedua orang tuaku, mereka yang menjaga dan mendidikku sehingga aku menjadi anak yang berbudi baik. Bahkan, dari tahun ke tahun aku selalu menjadi juara kelas, menjadi kebanggaan guru n di puji kesantunanku oleh orang-orang di sekelilingku. Itu semua berkat kedua orang tuaku…  Tapi keadaan berubah ketika aku duduk di kelas 2 smp. prahara rumah tangga yang membuat kedua orang tuaku harus bercerai. Aku tidak lagi bisa merasakan hangatnya keluarga. Rumah yang dulu bagiku adalah sebuah syurga, kini berubah jadi tempat gelap yang membosankan. Tak ada lagi kedamaian yang aku rasa. Tak ada lagi ayah yang dulu selalu mengajariku banyak hal tentang hidup, mengajariku menjadi lelaki yang tangguh. Tak ada lagi ibuku yang dulu selalu mengingatkanku untuk mengerjakan PR, menyiapkan buku sekolah. Tak bisa lagi aku lihat ibuku memasak makanan untukku…
Aku kehilangan semua itu yang harusnya masih aku miliki. Dan aku pun harus melanjutkan hidup tanpa orangtuaku. aku memilih tuk tidak ikut ayah atau ibuku, karena saat itu aku kecewa pada keputusan yang mereka ambil. Entah berapa kali aku menangisi nasibku, aku selalu bertanya kenapa harus terjadi padaku? Banyak yang berubah dariku saat itu, pergaulanku makin bebas, karena yang aku pikirkan saat itu hanya bagaimana aku bisa melupakan masalah keluargaku. Beberapa guru dari sekolahku juga sempat mencariku karena aku menghilang 1 bulan dari sekolah. Mereka memberiku semangat dan dukungan. Sampai aku lulus, aku mendapat tawaran beasiswa tuk melanjutkan sekolahku. Tapi aku menolaknya. Entah apa yang aku pikirkan saat tu. Hidup luntang lantung kesana kemari, sudah aku jalani. Kerja serabutan ikut siapa saja yang mau membawaku. Rasa rindu pada keluarga sering kali membuatku lemah. Tapi aku belum ingin kembali pada mereka, aku masih ingin memuaskan diri menikmati pilihanku. Sesekali aku mengunjungi ibuku, tapi lebih sering ke ayah aku. Tahun ke tahun makin bertambah usiaku, aku mulai berpikir masa depan. Aku perbarui hidupku, aku kembali pada ibuku, aku ingin membantu ibuku. Aku sudah banyak kehilangan hal-hal yang berarti dalam hidupku. Aku berharap hidupku akan lebih baik. Dan akhirnya aku mulai kembali menjadi diriku yang dulu. meski tidak lengkap tapi aku kembali punya keluarga… Aku senang dan bersyukur bisa melalui masa-masa pahitku. Tapi siapa sangka, Tuhan kembali mengujiku dengan musibah yang jauh lebih besar. Karena sebuah kecelakaan, aku harus kehilangan satu kakiku. Sedih, marah, putus asa, menjadi satu melemahkan semangat hidupku. Bagaimana bisa ini terjadi? Dan kenapa harus aku? Tuhan belum cukupkah ujian yang harus aku lalui? Kenapa harus dengan cara ini KAU mengujiku? Bagaimana hidupku nanti? Kenapa nasibku begitu malang? Tangisanku tak henti-henti mnyesali keadaan ini.  Dan yang lebih menyakitkan hatiku adalah sikap ibuku yang berubah padaku. Di saat aku hanya bisa terbaring menahan sakit, aku juga harus mendengar kata-kata yang pedas keluar dari mulut ibuku. Kenapa ibuku mengumpat seolah-olah aku yang menginginkan musibah ini. Masa penyembuhanku membutuhkan waktu yang lama, dan aku harus melewatinya sendiri, Aku berusaha tegar di depan smua orang. tapi saat aku sendiri, aku tak mampu menahan tangisku. Saat aku lihat pahaku yang berbalut perban setelah di amputasi.
Dimana kakiku? rasanya masih teringat jelas saat aku jalan dengan dua kakiku, tapi kenapa sekarang jadi seperti ini? Begitu berat menerima kenyataan ini. Kadang aku berharap ini hanya mimpi. Hari-hariku penuh kesedihan. Kurangnya perhatian membuat aku makin terpuruk. Aku merasa mereka menganggapku sampah. Aku hanya bisa berdoa semoga aku di beri kekuatan. Aku berjuang melawan sakitku. Aku ingin sembuh, aku tidak mau terlalu lama membebani mereka.  Setelah aku sembuh, aku bergabung dengan orang-orang yang bernasib seperti aku di sebuah yayasan. Disini lah aku belajar membiasakan diri dengan keadaanku. pelan-pelan percaya diriku mulai tumbuh. Tapi terkadang aku iri melihat mereka yang selalu dikunjungi keluarganya tiap minggu. sedangkan aku, hanya bisa memperhatikan satu persatu mereka yang datang, aku berharap ada keluargaku… walau akhirnya aku kecewa. kemudian aku lebih memilih menyendiri di kamar menyembunyikan mataku yang berkaca-kaca.
Hanya sesekali telepon dari ayahku yang bisa sedikit menenangkan aku. Dan teman-teman yang sudah seperti saudaraku yang membuat hariku terasa menyenangkan. Membuatku tersenyum dan dalam hatiku berkata, aku bisa melewati semua ini.  Sebagai penyandang cacat, aku butuh kaki palsu untuk memudahkan aku beraktifitas. Harganya cukup mahal bagi aku. Aku gak mungkin lagi minta orang tuaku, sudah terlalu banyak yang mereka keluarkan untuk aku. Dengan bantuan teman-temanku, aku dapatkan proposal dari Dinas Sosial dan Rumah Sakit. Proposal itu lah yang aku gunakan untuk meminta sumbangan dari toko ke toko.  Dengan rasa malu dan takut, aku datangi satu per satu toko… rasanya mau nangis kalau ingat kejadian itu, Di bawah terik matahari aku berjalan tertatih dengan satu tongkat penyangga. Dalam hatiku bertanya “apakah aku pengemis?” Oh tuhan… aku tak pernah membayangkan hidupku akan begini.  Hari itu banyak toko-toko yang aku masuki, sebagian bisa memahami, bahkan memberi suport, tapi ada juga yang ketus… dia lemparkan uang seribu ke mukaku, astaghfirullah tuhan kuatkan aku, dalam hatiku. Sehina ini kah aku? Inilah perjuanganku, aku harus kuat. Aku selalu berusaha menguatkan diriku. Ternyata meminta adalah hal yang bisa merendahkan diri kita. Aku berdoa pada tuhan, ‘tuhan, sungguh aku terpaksa melakukan ini, hanya ini yang aku mampu lakukan saat ini, tuhan jadikan lah ini awal yang baik’. Setelah sore aku pulang dengan hati yang sedikit lega, karena sudah ngantongin uang tuk beli kaki palsu. Tapi aku tidak menceritakan hal ini pada keluargaku. Besoknya aku bawa uang itu ke rumah sakit dan kekurangan biayanya di tanggung oleh donatur.  Ternyata benar, di setiap musibah ada hikmah yang bisa di ambil. Kita harus ikhlas dan bersabar menghadapinya.
Aku bisa belajar banyak hal, banyak pengalaman yang aku dapat dari sana. Sekarang, meski fisikku tidak sempurna, aku bisa menjalani hidup seperti biasa. Aku bekerja di sebuah laundry. Walaupun gajiku terbilang di bawah rata-rata, aku tetap bersyukur masih ada orang yang mau memperkerjakan aku. Selalu yakin dan berusaha sekuat tenaga, tak ada yang tak mungkin.

Penyesalanku..


“PENYESALAN”

4 tahun, mungkin bukan waktu yang singkat tuk mengenal seseorang. Ridwan faisal adalah sosok seseorang yang sangat tulus, baik dan sangat menyayangiku. Apapun akan dilakukannya untuk membuatku bahagia. Tapi aku begitu bodoh, 4 tahun aku sia-siakan begitu saja dengan mengabaikan semua kasih sayangnya. Aku tidak pernah memberikan waktuku untuk dia, aku selalu sibuk dengan semua urusanku tanpa memikirkan bahwa dia begitu ingin bertemu denganku. Hingga suatu hari, dia jatuh sakit dan dia sangat membutuhkanku. Tapi aku masih berpikir dia hanya sakit biasa dan mungkin sebentar lagi akan sembuh. aku datang menjenguknya tapi hanya sekali dan esoknya aku sibuk lagi dengan urusanku. Hingga akhirnya dia harus dirawat karena semakin parah. Tapi bodohnya aku, aku tetap tidak peduli dan berpikir kalau semua masih baik-baik saja. Setelah dia dirawat 3 hari, aku baru menjenguknya, aku begitu terkejut karena dia begitu parah, dan kondisinya semakin lemah. Tapi entah setan apa yang merasuki tubuh hingga esoknya aku tidak peduli lagi padanya. Setelah beberapa hari kemudian, dia pulang dari rumah sakit, bahkan aku gak tau. Saat itu aku pikir semua akan tetap baik-baik saja, hingga aku tak datang lagi untuk menjenguknya bahkan bertanya kabarnya pun tidak. 10 hari kemudian aku datang untuk menjenguknya, aku pikir keadannya membaik, tapi ternyata lebih buruk dan semakin lemah, bodohnya aku tidak berpikir sedikitpun kalau aku akan kehilangannya kalau pada saat itu akan menjadi hari terakhir aku melihatnya. 2 hari kemudian adiknya mencariku, dan memberitahukan bahwa dia telah meninggal, Ya Allah apalagi ini, mengapa semua harus terjadi padaku, selama ini hatiku telah buta, padahal saat itu dia sangat membutuhkanku, samasekali aku tidak menghiraukan orang yang aku sayang hingga akhirnya dia meninggalkanku untuk selamanya, bahkan Allah tidak mengizinkanku tuk melihat wajahnya di hari terakhirnya. Bodoh, begitu bodohnya aku, seakan aku tidak punya hati, sampai aku begitu tega menyia nyiakan orang yang aku sayang, orang yang begitu menyayangiku. Sekarang hanya tinggal penyesalan yang tiada akhir, yang selalu datang menghantui aku.